Langsung ke konten utama

Peningkatan Kualitas Pelaksanaan Akreditasi PAUD dan PNF

Peningkatan Kualitas Pelaksanaan Akreditasi PAUD dan PNF Hampir sebagian besar orang sudah tidak asing lagi mendengar kata akreditasi. Karena biasanya lembaga kebanyakan menuliskan akreditasi di depan gerbang lembaganya untuk menarik minat masyarakat. Namun tahu kah anda apa itu akreditasi?. Akreditasi adalah suatu pengakuan formal yang diberikan oleh badan akreditasi terhadap kompetensi suatu lembaga. Atau bisa juga diartikan nilai lembaga tersebut dalam beberapa kriteria. Setidaknya ada beberapa standar yang harus dimiliki lembaga seperti: 1) Standar Kompetensi Lulusan; 2) Standar Isi; 3) Standar Proses; 4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 5) Standar Sarana dan Prasarana; 6) Standar Pengelolaan; 7) Standar Pembiyaan ; dan 8) Standar Penilaian. Semua komponen tersebut harus dikelola dengan baik agar proses pendidikan berjalan sesuai dengan harapan. Akreditasi menjadi sangat penting dalam menentukan apakah lembaga tersebut bagus atau tidak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan menetapkan bahwa seluruh lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia harus terakreditasi pada 2020.

Namun pada kenyataannya pelaksanaan akreditasi perlu diperbaiki. Hal ini disebabkan Penilaian akreditasi belum mampu melihat tampilan lembaga yang stabil (sustained performance). Tampilan lembaga cenderung sangat baik saat penilaian akreditasi yang dilakukan selama beberapa hari, bahkan hanya 1 hari, dan kembali menurun setelah tim penilai pergi. Tidak jarang ada beberapa lembaga yang mengadakan sambutan yang “wah” terhadap para asesor supaya diberi nilai A, dan ini seolah menjadi sebuah tradisi Selain itu penilaian akreditasi cenderung “paper based assessment”. Kualitas dokumen memiliki peran dominan dalam menentukan hasil akreditasi. Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan akreditasi sebaiknya pelaksanaan penilaian akreditasi dari single visit menjadi multy visits .

Visitasi dilakukan sebanyak 3-4 kali dalam 1 tahun, baik secara terjadwal maupun tidak terjadwal. Menggunakan instrumen akreditasi, tim penilai secara periodik memotret sustained performance. Selain itu pelaksanaan penilaian akreditasi dari dokumen lembaga sebagai objek penilaian, menjadi instrumen pendukung penilaian. Misalnya penilaian mengenai kerja sama lembaga dengan pihak eksternal. Sebaiknya yang menjadi poin utama bukan dokumen kerja samanya, melainkan sejauh mana realisasi kerja sama tersebut secara nyata berkontribusi terhadap kesuksesan program lembaga. Dokumen kerja sama seperti MoU, SPK, dan sebagainya, merupakan instrumen pendukung bagi tim penilai dalam ‘melacak’ keterlaksanaan dan efektivitas kerja sama tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENYELENGGARAAN KELOMPOK PERCONTOHAN PEMBELAJARAN (Pengolahan Pakan Ikan)

A. LATAR BELAKANG       Usaha budidaya ikan air tawar merupakan sektor penting dalam upaya mencapai kebutuhan protein hewani di Indonesia. Permintaan akan ikan menunjukkan peningkatan, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat pendapatan serta kesadaran akan pentingnya makanan bergizi pada masyarakat. Dengan meningkatnya usaha budidaya ini maka tuntutan terhadap jumlah maupun bahan pakan akan meningkat pula. Mengingat biaya pakan ini yang paling besar, maka usaha positif apabila diadakan penekanan biaya pakan dalam rangka meningkatkan keuntungan. Semakin tingginya biaya pakan membuat para pembudidaya ikan mencari strategi untuk meminimalkan biaya tanpa harus mengganggu pencapaian produksi. Sebagaimana diketahui, pakan dalam budidaya ikan menyumbang sekitar 60 – 70 % dari total biaya produksi. Salah satu cara untuk meminimalkan biaya tinggi dengan membuat pakan ikan sendiri. Melalui teknologi sederhana, kita dapat meracik pakan untuk komoditas...

PERAN AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH TERHADAP PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

 A. Pendahuluan Sekolah merupakan suatu lembaga belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut KBBI ). Sekolah juga merupakan instansi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi sentral di dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam menghasilkan generasi-generasi terdidik. Berkaitan dengan itu, maka sekolah akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang,berkaitan dengan perananan keberadaan dan manfaatnya. Kemajuan sumber daya manusia tidak dapat diperoleh begitu saja, melainkan haruslah diproleh melalui “proses pendidikan” yang baik dan “institusi” yang baik pula. Proses Pendidikan secara formal dilaksanakan di sekolah melalui proses belajar mengajar. Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, dan guru sebagai pemegang peranan utamanya. Pelaksanan proses belajar mengajar ini, harus didukung dengan sarana prasarana yang baik dan cukup agar proses belajar mengajar dapat berjalan se...